Perdebatan Inkar Sunnah dan Ahli Sunnah April 4, 2006
Posted by aniq in UIN Online.add a comment
Student Center, UINJKT Online – Lari dari mulut singa, tapi jatuh ke dalam mulut buaya. Seperti itulah mungkin gambaran sederhana tentang Ingkar Sunnah. Perumpaman ini disampaikan Abdul Zulfikar Akaha, LC, dalam Bedah Buku “Debat Terbuka Ahli Sunnah Versus Inkar Sunnah”, pada Book Fair 2006, yang diselenggarakan gabungan dari beberapa Badan Ekskutif Mahasiswa Jurusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Student Center, Jumat (7/4).
Menurut Zulfikar, meskipun orang-orang Inkar Sunnah selalu mengatakan bahwa mereka hanya mengambil dari al-Quran dan tidak mau mengambil dari selain al-Quran, tetapi ternyata mereka mempunyai garis pemikiran dan pemahaman yang linier dengan sebagian kelompok di luar Ahlu Sunnah yang telah ada (jauh) sebelum kemunculan mereka di bumi India sekitar abad 18 M.
Lebih jauh Zulfikar menjelaskan, kelompok-kelompok tersebut adalah Khawarij, Syiah, Muktazilah, dan Orentalis. Diakui atau tidak, Inkar Sunnah membangun paradigma pemikirannya dengan mengadopsi dari sebagian sikap dan pemikiran empat kelompok tersebut.
Zulfikar juga menambahkan, menolak Sunnah berarti meremehkan kredibilitas para sahabat dalam meriwayatkan sesuatu. Karena selain Sunnah, para sahabat juga meriwayatkan al-Quran. “Maka menolak Sunnah juga menolak al-Quran, dan para pengingkar Sunnah tidak lari dari konsekuensi logis” ujar penulis buku ini.
Sementara itu, Pakar Tafsir UIN Jakarta, Dr Ahmad Lutfi Fathullah, MA, sekaligus pembicara mengatakan, bukan berarti orang yang tidak berjenggot dan tidak bergamis inkar terhadap hadis.
Menurutnya, yang salah adalah orang yang melihat sesuatu yang kecil tetapi dilebih-lebihkan. Misalnya, hanya karena tidak mau memakai pakaian-pakaian yang menjadi simbol Islam, dikatakan mereka tidak mau mengakui hadis
Perjalanan Panjang Freemason di Indonesia April 4, 2006
Posted by aniq in UIN Online.47 comments
Student Center, UINJKT Online – Konsep Zionis selalu bersifat elitis. Orang-orag pintar, kaya, dan mereka yang berpengaruh harus dikendalikan. Demikian disampaikan Herry Nurdi dalam Seminar dan Bedah buku Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia, yang diselenggarakan Badan Ekskutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (Ekonomi Islam) Perbankan syariah (BEMJM-FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Student Center, Selasa (4/4). Menurut Herry, Freemason atau lembaga/organisasi yang tidak terbuka untuk umum ini sudah lama berdiri, tepatnya tahun 1717 di London. Di Indonesia Freemason pun sudah lama berkembang sebenarnya. Saat itu, tutur Herry, Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan yang tercatat dalam lembaran negara tersebut, Soekarno melarang Vrikjmentselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmemant Movement dan ancient Mystical Organization of Sucen Cruiser (Amorc) untuk aktif di Indonesia. Surat keputusan tersebut, lanjut Herry, hanya menjelaskan bahwa ketiga organisasi di atas dilarang pemerintah sebagai organisasi yang mempunyai dasar dan sumber dari luar Indonesia, yang tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Herry juga menjelaskan, pelarangan yang dilakukan Soekarno maupun Sekretariat Negara ini tidak mempunyai alasan yang jelas. Namun yang pasti, ketiga organisasi di atas adalah kepanjangan tangan dari gerakan Zionis Yahudi Internasional. Dan ini merupakan pertanda bahwa Zionisme Internasional telah dan terus berupaya menancapkan kukunya sejak lama di Indonesia. Sementara itu, budayawan Ridwan Saidi yang sekaligus sebagai pembicara mengatakan, buku Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia ini sangat menarik dan informatif. Buku karangan Herry Nurdi ini memang bukanlah yang pertama mengupas persoalan Freemasonry dan gerakan Yahudi di Indonesia. Tapi kehadiran buku ini melengkapi dan menguatkan fakta-fakta yang diungkap sebelumnya. *ANI
Hiruk Pikuk Perjalanan Bank Muamalat April 4, 2006
Posted by aniq in UIN Online.add a comment
Student Center, UINJKT Online — Mantan Direktur Bank Muamalat, Zainulbahar Noor dalam Bedah Buku Bank Muamalat, mengatakan, penerbitan buku Sebuah Mimpi, Harapan, dan Kenyataan Fenomena Kebangkitan Ekonomi Islam merupakan kelanjutan dari buku sejarah Bank Muamalat “Ketika Bagi Hasil Tiba”. Peluncuran dan bedah buku itu diselenggarakan Badan Ekskutif Mahasiswa Jurusan Muamalat (Ekonomi Islam) Perbankan syariah (BEMJM-FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Student Center, Selasa (4/4).
Menurut Zainur, kelahiran Bank Muamalat bukanlah sesuatu yang sederhana. Penumbuhkembangan Bank Muamalat merupakan sesuatu yang sangat penting daripada sekedar menjaga kehadirannya.
Sebab, lanjut Zainur, apabila bank syariah pertama ini tidak berhasil, bangkrut dan gagal, diperlukan waktu 100 tahun lagi kemungkinan pendiriannya kembali. Dengan mengambil dasar waktu lebih kurang 100 tahun setelah berdirinya lembaga bisnis sejenis, yaitu Syarikat Dagang Islam, baru kemudian lembaga yang serupa, Bank Muamalat baru bisa berdiri.
Lebih lanjut Zainur menjelaskan, setelah sepuluh tahun lebih, bank syariah ini beroperasi, kini telah mengalami banyak kemajuan. “Kehadiran buku ini diperlukan untuk memastikan bahwa ‘Proyek Pemerintah’ tersebut tetap dalam perhatian kalangan Pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, pakar syariah, Prof Dr M Amin Suma yang sekaligus sebagai pembicara, mengatakan, buku karya Zainulbahar Noor ini menarik dan unik. Selain melukiskan pengalamannya, mulai mengalami hambatan hingga berhasil melampauinya. Selain itu, kata Amin, buku ini juga mengisahkan perihal penekanan peran lembaga syariah yang ada di
Indonesia yang melibatkan lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Seperti Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dalam hal keuangan dan Majlis Ulama Indonesia (MUI) perihal syariah.
Hadir pula dalam diskusi dan bedah buku ini Ketua Direktorat Perbankan Syariah BI, Harisman


