jump to navigation

Hermeneutik Lebih Reflektif Tafsirkan Teks April 27, 2006

Posted by aniq in UIN Online.
add a comment

Ruang Teater FUF, UINJKT Online – Awalnya hermeneutika digunakan untuk merujuk kepada studi yang terkait dengan pengembangan aturan-aturan dan metode-metode yang dapat membimbing penafsiran Bible.  

Demikian disampaikan Adnin Armas, MA dalam seminar nasional “Menimbang Hermeneutika sebagai Diskursus Kajian Tafsir” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis (BEMJ-TH) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di ruang teater FUH, Kamis (27/4).  

Menurut Adnin, sekalipun berbagai teknik penafsiran dan tradisi hermeneutika yang canggih telah berkembang sebelum Schleiermacher, namun Dilthey mungkin yang pertama kali menyatakan perkembangan penting dalam sejarah lahirnya ilmu hermeneutika.  

Lebih lanjut Adnin menjelaskan, Schleiermacher memang layak mendapat penghargaan tersebut karena memang ia menjadikan persoalan hermeneutis sebagai persoalan universal dan mengajukan teori pemahaman yang filosofis untuk mengatasinya.  

Sementara itu dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, Martin Sinaga mengatakan bahwa  hermeneutik dalam dunia tafsir Alkitab Kristen, sebagai langkah kedua setelah eksegese. “Dengan demikian hermeneutik lebih reflektif, filosofis dan kontekstual. Sementara eksegese lebih ketat, semacam disiplin tafsir,” tuturnya.  

Lebih jauh Martin menjelaskan, hermeneutik merupakan usaha untuk beralih dari sesuatu yang relatif gelap ke dalam bentuk ungkapan yang jelas dan terang. “Sejak Schleiermacher, kita diingatkan perlunya suatu prinsip untuk memahami ungkapan-ungkapan bahasa. Ia membayangkan adanya prinsip di balik peristiwa biasa ketika seorang anak menangkap arti suatu kata baru: Dari kata ke kalimat, begitulah bolak-balik,” ujar Martin. *ANI 

Media Massa Mengaburkan Kenyataan April 27, 2006

Posted by aniq in UIN Online.
add a comment

Ruang Teater FSH, UINJKT Online – Teks yang ditulis maupun dibacakan di media cetak maupun elektronik bukan hanya mencatat dan melaporkan kenyataan, melainkan benar-benar menciptakan kenyataan.

Demikian disampaikan Redaktur majalah Fountain Indonesia, Achmad Rifki dalam pelatihan jurnalistik “Pers Sebagai Bahasa Universal Menuju Masyarakat Komunikatif” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum (BEMJ-PMH) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di ruang teater FSH, Kamis (27/4).

Menurut Rifki, interpretasi sangat bergantung pada siapa yang menjadi interpreter (penafsir), siapa yang dibicarakan, apa tujuannya, serta dalam peristiwa historis apa interpretasi itu dibuat. Segala interpretasi merupakan apa yang mungkin bisa disebut situasional. Mereka selalu muncul dalam situasi yang berhubungan dengan interpretasi afiliatif.

“Dengan demikian, kita sedang berada dalam lingkaran komunitas interpretasi dalam pengertian yang luas. Masing-masing diri kita hidup dalam sebuah dunia yang sebenarnya diciptakan manusia itu sendiri. Karena interpretasi adalah hasil konvensi, kesepakatan, hasil dari proses sejarah, dan di atas semuanya adalah hasil dari upaya umat manusia untuk memberikan sebuah identitas tertentu pada segala hal,” tutur alumnus Universitas Paramadina ini.
Rifki yang juga penyunting dan editor Penerbit Paramadina menambahkan, media massa memiliki peran yang signifikan. Karena, media massa dapat melakukan segalanya, menampilkan segala bentuk sudut pandang, bahkan terkadang menyimpang dari kebiasaan.

Tetapi pada akhirnya, lanjut Rifki, karena mayoritas media massa masih menjadi kepanjangan tangan dari lembaga yang melayani dan mempromosikan identitas perusahaan “Amerika” bahkan “Barat”. *ANI

Kebijakan Dewan Tak Berpihak Rakyat April 26, 2006

Posted by aniq in UIN Online.
add a comment