jump to navigation

Militer Singapura Tercanggih dan Termodern Desember 28, 2005

Posted by aniq in UIN Online.
7 comments

Ruang Teater FEIS, UIN Online – Angkatan Perang Singapura menjadi kekuatan militer tercanggih dan termodern di Asia Tenggara dan Pasifik.

 

Demikian penegasan yang disampaikan Rizk Ridyasmara, dalam Seminar dan Bedah Buku  Singapura: Basis Israil Asia Tenggara Tinjauan Ekonomi Politik dan Militer , yang diselenggarakan Badan Ekskutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, (BEM FEIS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Ruang Teater FEIS, lt. 2, Rabu (28/12).

 


Menurut Rizk, Israel lebih hebat dibandingkan Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat ketika Amerika Serikat mengirim 6.000 penasehat militer ke
Vietnam untuk membantu Presiden Ngo Dinh Diem dan gagal. Di Singapura, Israel hanya mengirim 18 perwira untuk membangun angkatan perang negara ini.

 

Rizk juga menambahkan bahwa, yang bisa membantu Singapura hanyalah Israel, sebuah negara kecil yang dikepung negara-negara Muslim tapi mampu memiliki basis militer yang kuat. Hanya Israel yang mampu membangun militer yang dinamis di sana.

 

“Itu yang kemudian membuat saya tertarik untuk menulis buku ini dan mengambil obyek Singapura. Sebab, selain sebagai negara basis Israel, Singapura juga sebagai negara pelindung konglomerat hitam Indonesia yang mempunyai property di Indonesia,” tegas Rizk penulis dari buku ini. 

 

Dalam kesempatan yang sama Riza Sihbudi, pengamat masalah-masalah Timur Tengah, yang juga salah satu pembicara di seminar ini mengatakan bahwa, untuk menjadi negara yang kuat militernya seperti Israel diperlukan intropeksi diri terhadap sistem pemerintah yang harus dirombak dan diperbaiki, selain harus ada tekanan-tekanan dari pemerintah untuk memikirkan bangsa ini agar Indonesia tidak selalu dibodohi negara tetangga.

 

Menurut Riza, kekuatan Singapura di bidang ekonomi dan pertahanan keamanan lebih baik dari Indonesia. “Kenyataan ini bukanlah semata-mata karena mereka kuat, tapi karena kita lemah dan tidak mau intropeksi,” kata pengamat dan peneliti.

 Sementara Zulkiflimansyah, anggota komisi VI DPR-RI,  mengatakan bahwa Singapura harus dilihat dari berbagai aspek, bukan dari persoalan ideologi dan politik saja tapi juga persoalan ekonomi dan hukum.

Iklan

Peran Filsafat Islam dalam Skeptisisme Post Modern Desember 28, 2005

Posted by aniq in UIN Online.
4 comments

Ruang Sidang FUF, UIN Online – Ir. Husen Haryanto, M.Hum, menyatakan bahwa filsafat Islam bisa menjadi sumber yang kaya untuk menjawab skeptisisme post modern

 

Pernyataan itu dikemukakan Husen dalam kuliah umum ”Filsafat Islam di Dunia Kontemporer” yang diadakan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Syarif Hidayatullah, di Ruang Sidang FUF, lt. 4, Rabu (28/12).

 

Menurut Husen, skeptisisme atau pandangan yang meragukan kembali tentang nilai-nilai moral yang obyektif ini telah menyebar. “Hal ini mengingatkan saya pada Nurcholish Madjid yang mengatakan bahwa 50% khazanah Islam berbahasa
Persia dan Arab. Cuma bahasa
Persia putus. Sehingga hanya bahasa Arablah yang mewarnai perjalanan ilmu pengetahuan. Itu yang kemudian membuat para intelektual Islam
Indonesia kekurangan sumber riset,” katanya. 

 

Husen juga menambahkan skeptisisme dalam filsafat disebut perselingkuhan terhadap hedonisme dan kapitalisme di dunia praktis yang melihat hidup ini tidak bermakna. “Ini yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh filsafat klasik seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Husen juga menjelaskan bahwa, skeptisisme berikutnya adalah skeptisisme yang berbau teologi atau agama. Skeptisisme ini melahirkan al-Ghazali dan Mulla Shadra yang mensintesiskan semua aliran dengan tradisi Islam dan mendayagunakan akal dalam memahami kehidupan, khususnya dalam epistemologi

 

“Sedangkan skeptisisme  selanjutnya adalah skeptisisme modern yang terjadi di Eropa pada abad 15 bertepatan dengan gerakan pencerahan yang mulai bergulir pada abad 13. Terjadinya pergulatan para seniman dan budayawan di Eropa ini akhirnya memunculkan konflik antar agama dan saint,” papar Husen.

 

Husen juga menambahkan dalam penjelasan akhirnya bahwa, skeptisisme terakhir adalah skeptisisme post modern. Skeptisisme ini tidak percaya lagi dengan penemuan akal, nilai-nilai obyektif dan universal, serta pandangan yang menganggap bahwa hidup itu tidak bermakna.

Kuliah umum ini dihadiri Dekan FUF, Prof. DR. Amsal Bakhtiar, sebagian besar dosen FUF dan beberapa dosen dari Islamic College Advence (ICA),
Jakarta

Dekan FUF: Aceh Harus Bangkit dan Jaya Desember 27, 2005

Posted by aniq in UIN Online.
add a comment

Gedung FUF, UIN Online — Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, berharap agar tragedi tsunami tidak melunturkan semangat rakyat di Aceh untuk terus membangun kembali bangkit dan jaya.

 

Harapan itu disampaikan Amsal dalam sambutannya ketika membuka Refleksi Satu Tahun Tsunami di Aceh; dengan tema “Menjerit Aceh, Menggeram Indonesia”, yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Pemikiran Politik Islam (BEMJ-PPI ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama (BEMJ-SA) FUF UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di lobi FUF lt.1, Selasa (27/12).

 

Amsal juga menambahkan, peringatan satu tahun tsunami di Aceh ini bukanlah hanya sebagai refleksi terhadap terjadinya peristiwa itu, tetapi juga memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk masa depan Aceh. “Sumbangsih kita semua sebagai saudara sangat diperlukan, meskipun tidak bisa memberikannya secara langsung di
sana,” papar Amsal.

 

Dalam kesempatan yang sama salah satu relawan Aceh dari Mahasiswa Pemikiran Politik Islam (PPI-FUF), Aniqotul Ummah, mengatakan dalam orasinya bahwa penderitaan yang dialami rakyat di Aceh pasca bencana juga merupakan penderitaan bangsa Indonesia secara keseluruhan. “Sudah sepantasnya kita pun memberikan support dan doa kepada mereka untuk bisa terus eksis dan belajar seperti kita sekarang,” kata Aniq yang pernah di Aceh selama tiga bulan pasca tsunami.
 
Selain orasi, refleksi ini juga dimeriahkan dengan seni dan budaya, seperti pementasan teater, musikalisasi puisi, dan pemutaran film dokumenter tsunami

“jeruk kok makan jeruk”, ya itu ungkapan sederhana buat seorang wartawan yang biasanya memburu berita, namun kali ini ia justru dicolek temennya sendiri sesama reporter untuk diwawancarai berbagi pengalamannya sebagai relawan sewaktu di kota rencong.