jump to navigation

Peran Filsafat Islam dalam Skeptisisme Post Modern Desember 28, 2005

Posted by aniq in UIN Online.
trackback

Ruang Sidang FUF, UIN Online – Ir. Husen Haryanto, M.Hum, menyatakan bahwa filsafat Islam bisa menjadi sumber yang kaya untuk menjawab skeptisisme post modern

 

Pernyataan itu dikemukakan Husen dalam kuliah umum ”Filsafat Islam di Dunia Kontemporer” yang diadakan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Syarif Hidayatullah, di Ruang Sidang FUF, lt. 4, Rabu (28/12).

 

Menurut Husen, skeptisisme atau pandangan yang meragukan kembali tentang nilai-nilai moral yang obyektif ini telah menyebar. “Hal ini mengingatkan saya pada Nurcholish Madjid yang mengatakan bahwa 50% khazanah Islam berbahasa
Persia dan Arab. Cuma bahasa
Persia putus. Sehingga hanya bahasa Arablah yang mewarnai perjalanan ilmu pengetahuan. Itu yang kemudian membuat para intelektual Islam
Indonesia kekurangan sumber riset,” katanya. 

 

Husen juga menambahkan skeptisisme dalam filsafat disebut perselingkuhan terhadap hedonisme dan kapitalisme di dunia praktis yang melihat hidup ini tidak bermakna. “Ini yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh filsafat klasik seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Husen juga menjelaskan bahwa, skeptisisme berikutnya adalah skeptisisme yang berbau teologi atau agama. Skeptisisme ini melahirkan al-Ghazali dan Mulla Shadra yang mensintesiskan semua aliran dengan tradisi Islam dan mendayagunakan akal dalam memahami kehidupan, khususnya dalam epistemologi

 

“Sedangkan skeptisisme  selanjutnya adalah skeptisisme modern yang terjadi di Eropa pada abad 15 bertepatan dengan gerakan pencerahan yang mulai bergulir pada abad 13. Terjadinya pergulatan para seniman dan budayawan di Eropa ini akhirnya memunculkan konflik antar agama dan saint,” papar Husen.

 

Husen juga menambahkan dalam penjelasan akhirnya bahwa, skeptisisme terakhir adalah skeptisisme post modern. Skeptisisme ini tidak percaya lagi dengan penemuan akal, nilai-nilai obyektif dan universal, serta pandangan yang menganggap bahwa hidup itu tidak bermakna.

Kuliah umum ini dihadiri Dekan FUF, Prof. DR. Amsal Bakhtiar, sebagian besar dosen FUF dan beberapa dosen dari Islamic College Advence (ICA),
Jakarta

Komentar»

1. h.ans - Februari 5, 2008

hamdulillah terkesan sama uin aku perna belajar filsafat sama dosen harus nasution th 1973 sangat mendukung dan say perna baca buku islam dalam filsafat bhs arab

2. dede - Maret 26, 2008

no komen

3. mau tau? - April 11, 2008

apa maksud dari bahasa persia putus?
kenapa tidak diberi penjelasan?

4. Bhayu MH - April 15, 2008

Hallo, salam kenal. Sy mhs S-2 Univ.Paramadina-ICAS. Wah ,tertarik sama filsafat juga? Mampir2 ke sekolah maya saya:
http://www.lifeschool.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: