jump to navigation

RUU APP: Pornografi Sangat Berbahaya April 5, 2006

Posted by aniq in UIN Online.
trackback

Student
Center, UINJKT Online — Banyak orang yang mempersoalkan pornografi selama ini itu karena umumnya mereka belum membaca isi dari draft Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) tersebut.

 

Demikian disampaikan Asisten Deputi Pengembangan Iptek dan Imtak dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Imam Gunawan dalam Talk Show  “Fenomena Pornografi dan Pornoaksi”, yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (BEM-FKIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di student Center, Rabu (5/4).

 

“Saya rasa semua orang juga sepakat dan setuju, bahwasanya pornografi itu sangatlah berbahaya,” ujar Imam.

Hanya saja, lanjutnya, kesimpangsiuran masyarakat dalam memahami RUU APP ini masih berkutat pada draft yang lama. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya sudah mengalami banyak revisi pada draft baru. Hal itulah yang masih menjadi perdebatan pelik antara pihak yang pro dan kontra dengan RUU APP tersebut.  

Sementara itu aktivis Perlindungan Hak Anak, Rachma Fitriati yang hadir sebagai pembicara mengatakan, sejauh pengalaman dalam advokasi perlindungan anak termasuk pendampingan anak korban kekerasan, ditemukan bahwa anak Indonesia selama ini belum mendapatkan jaminan pemenuhan dan perlindungan dari pelanggaran hak anak, khususnya dari tindak kekerasan dan penelantaran. Sehingga masalah kekerasan anak ini perlu dimasukkan dalam RUU APP.  

Lebih jauh Pipiet menjelaskan, dalam berbagai kasus-kasus tindak pidana pelecehan, ditemukan fakta bahwa anak-anak adalah korban utama dari kekerasan seksual yang dialaminya seperti, kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh anak laki-laki 11 tahun pada anak perempuan usia 3 tahun di Rangkasbitung, Banten.  

“Nah, terkait dengan RUU APP ini, kami memandang bahwa peraturan undang-undang yang ada belum mengatur masalah pornografi anak (child pornography), sedangkan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak hanya mengatur tentang eksploitasi seksual dan kekerasan seksual pada anak, tanpa ada definisi dan batasan yang jelas tentang ‘kesusilaan’; dengan ancaman hukuman sangat ringan (2 tahun 8 bulan dan denda Rp 75.000) tambah pengajar FISIP UI.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: