jump to navigation

Perayaan Maulid Nabi Saw bukan Bid’ah April 20, 2006

Posted by aniq in UIN Online.
trackback

Aula Madya I UINJKT Online — Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan membaca sebagian ayat al-Quran dan menyebutkannya sebagian sifat-sifat Nabi yang mulia adalah perkara yang penuh berkah dan tidak bid’ah.  

Penuturan tegas itu disampaikan ketua Darul Fatwa Australi, Syaih Salim Alwan al-Hasani, dalam Peringatan Maulid Nabi Saw yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dirasah Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Aula Madya I, Kamis, (20/4). Menurut Syaikh Salim, menghalalkan atau mengharamkan sesuatu adalah tugas seorang mujtahid seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad. Tidak setiap orang mampu mengambil tugas para Imam mujtahid ini, meskipun mereka telah menulis sebuah kitab baik kecil maupun besar.  

Lebih jauh Gurubesar Syahamah ini menjelaskan, barangsiapa mengharamkan menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla dan menelaah sifat-sifat Nabi pada peringatan hari lahirnya dengan alasan bahwa, Nabi tidak pernah melakukannya, berarti mereka telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.  

Padahal, papar Syaikh Salim, Nabi telah bersabda, “Barangsiapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”.  

Sementara Dr Basyiri Abdul Muthi Sayyid Darwis mendukung dan memperkuat pernyataan Syaikh Salim, dengan mengutip hadis Nabi, bahwa “sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”. Yang dimaksud “bid’ah ini”, jelas Basyiri, adalah menyebut nama dan Allah dan menelaah sifat-sifat Nabi.

 

Basyiri mengatakan, Imam Syafi’i telah menyimpulkan dalam kitabnya Manaqib al-Syafi’i, bahwa perkara-perkara yang baru terbagi menjadi dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Kitab, Sunnah, atsar para sahabat dan ijma’. Ini adalah bid’ah dlalalah. Kedua, perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela.

 

“Oleh karenanya al-Hafizh Ibnu Hajar, pengarang dari kitab Manaqib al-Syafi’i mengatakan peringatan maulid Nabi adalah bid’ah hasanah,” ujar dosen FDI UIN Jakarta ini. ANI                                  

Komentar»

1. hafidzur rahman - September 22, 2008

assalamualaikum
saya sangat bersyukur pada Allah, ternyata ada hamba Allah yang mau mengajarkan dan meyebar luaskan ajaran Islam yang haqiqi.
saya mohon pada Anda untuk terus melanjutkan perjuangan ini, dengan mengangkat topik-topik lain yang masih menjadi pertanyaan di kalangan umum, agar mereka tahu agama yang mereka anut itu sebenarnya bagaimana dan tidak mudah tergerus oleh arus aliran-aliran yang menyipang dari aqidah.

2. mahri - Januari 17, 2009

LAA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAAH …!
Perkataan:
..barangsiapa mengharamkan menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla dan menelaah sifat-sifat Nabi pada peringatan hari lahirnya dengan alasan bahwa, Nabi tidak pernah melakukannya, berarti mereka telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.
Komentar:
.. Tidak pernah ada yg mengharamkan menyebut nama Allah dan menelaah sifat Nabi, yg diharamkan yaitu pembuatan syari’at baru, bahwa di sekitar tgl kelahiran Nabi dianjurkan/disunnahkan untuk mengadakan Maulidan.
Hal ini berarti berani membuat syari’at yg tidak diperintahkan Allah dan RasulNya ..
.. Tidak mungkin ada perbuatan ibadah (aqidah/syari’at) yang baik yg belum diajarkan Rasulullah, ini fitnah besar thd Rasulullah ..
”Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” [Al-Maaidah : 3].
“Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian” (HR At-Thabrani, No.1647)
“Kutiggalkan kalian dalam ajaran yang putih bersih, malamnya seterang siangnya, siapa pun yang menyimpang darinya sepeninggalku pasti binasa”. (HR Ahmad, IV/126)

.. mengapa lebih percaya ulama dari negeri non-Islam ketimbang ulama dari negeri Islam, khususnya 2 kota suci (Makkah&Madinah) yg dajjal saja tdk bisa masuk ke sana ..
.. Pelajarilah Islam dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits Shahih), pahamilah dg pemahaman Sahabat Rasulullah, gunakan kecerdasan akal dg landasan keikhlasan hati ..
.. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua, dan menunjukan yg haq&bathil dg terang ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: