jump to navigation

Mencari Islam Indonesia Juni 8, 2006

Posted by aniq in JIL punya.
23 comments

“Istilah Islam Indonesia seakan hendak menegaskan bahwa Islam Indonesia sudah jelas. Padahal, sampai sekarang Islam Indonesia masih dalam proses menjadi”. Begitulah kalimat pembuka Abd. Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal sewaktu menjadi pembicara pertama pada diskusi yang bertitel “Membumikan Islam Indonesia; Sebuah Oase Republik Cinta”.

Dalam pengamatan Moqsith, sekurang-kurangnya terdapat tiga model keislaman di Indonesia. Pertama, model sufistik yang berjalan sejak abad ke 13-15 dan dinahkodai oleh Wali Songo. Model Islam ini berupaya untuk mengakomodir tradisi lokal. Para Walisongo sadar betul bahwa sebelum Islam datang, Indonesia sudah dihuni oleh kerajaan Hindu dan Budha. Karenanya, tradisi dua kerajaan tersebut tidak serta merta dilenyapkan.

Kedua, adalah model puritan yang berkembang pada abad ke-19. “Model ini cenderung ketus terhadap tradisi-tradisi lokal”, jelas kandidat doktor UIN Jakarta ini. Model ini mengembangkan gerakannya dengan istilah pembaruan dengan Muhammadiyah sebagai motornya.

Ketiga, adalah model Islam radikal. Model ini tumbuh dan berkembang pada tahun 1980-an. Mula-mula, gagasannya menolak Pancasila. “Hingga kini Islam radikal tumbuh dengan pesat. Bahkan, merasuk ke organisasi besar, seperti NU dan Muhammadiyah” tegas Moqsith. Namun, tambah Moqsith, wajah Islam radikal di Indonesia tidaklah satu, tetapi banyak modelnya. Ada FPI yang sangat keras, MMI, HTI, atau jama’ah tarbiyah yang agak santun. Di HTI pun konon terpecah dalam dua faksi; yang ngotot memperjuangkan khilafah Islamiyah dan yang mencoba realistis dengan kondisi Indonesia. Yang kedua ini tidak lagi mengusung khilafah sebagai satu-satunya pilihan tetapi beralih pada isu ‘adalah (keadilan). Oleh karenanya mereka dijuluki sebagai hizbul adalah. Kelompok kedua ini mulai memahami bahwa model keislaman ala Timur Tengah tidaklah mungkin diterapkan di Indonesia tanpa melakukan modifikasi.

Meningkatnya arus radikalisme di Indonesia serta bergesernya NU dan Muhamadiyah ke kanan dinilai oleh Moqsith sebagai poin penting bagi Jaringan Islam Liberal. “JIL yang berdiri 5 tahun lalu sejatinya merupakan antitesa radikalisme itu”, tegas Moqsith. Arus radikalisme Islam di Indonesia menurutnya tak bisa dibiarkan begitu saja. “Karena ia bukan saja mengancam kehidupan beragama ala Indonesia. Tetapi juga mengancam keutuhan bangsa Indonesia, karena ingin mengganti Pancasila dengan syariah Islam dan khilafah”, tandasnya. ”NU dan Muhamadiyah seharusnya menyadari hal ini, bukan malah terjebak di dalamnya.”

Diskusi yang berlangsung di Student Centre UIN Jakarta 28/4 lalu itu juga menghadirkan Mohamad Al Khattath dari Hizbut Tahrir Indonesia dan Prof. DR. Jalaludin Rahmat, pakar komunikasi dari Bandung.

Pandangan Moqsith di atas dengan serta merta ditampik oleh Mohammad al-Khaththath dari Hizbut Tahrir Indonesia yang menjadi pembicara kedua. Ia menuding aktivis JIL ini sebagai orang yang tidak paham Hizbut Tahrir dan konsep khilafah yang diusungnya. Menurutnya, khilafah itu bukan muncul dari Arab, tetapi dari langit. ”Khilafah adalah sistem pemerintahan yang dibawa oleh Rasulullah, sebagai sosok yang wama yanthiqu ‘an al hawa” tegasnya dengan nada tinggi. ”Yang dibawa oleh Muhammad semuanya wahyu, sementara yang dibawa oleh Moqsith jauh dari wahyu” serang Khatthath.

”Ketidakpahaman kedua adalah perihal aksi kekerasan.” ”Sedari awal, Hizbut Tahrir tidak pernah melakukan aksi kekerasan. Sebaliknya gerakan ini akan berputar pada pemikiran, politik dan tidak dengan jalan kekerasan” jelasnya. ”Hizbut Tahrir yang telah berkembang di 32 negara tidak ada yang menggunakan kekerasan.” ”Maka tudingan Ust. Moqsith Ghazali menjadi salah!”

Meski aktivis HTI menampik keikutsertaannya dalam aksi-aksi kekerasan yang dilancarkan front Islam Radikal, tapi dukungan mereka secara diam-diam tampaknya tak bisa ditutupi. Hal ini dibuktikan dengan absennya HTI dalam mengutuk tindak kekerasan yang secara bertubi-tubi telah dilakukan oleh mitranya, FPI.

Di tengah perdebatan sengit antara aktivis JIL dan HTI, sebagaimana telah menjadi kebiasaannya, Jalaludin Rakhmat hadir sekedar memberikan komentar atas kedua nara sumber sebelumnya. Ia dukung pandangan yang sesuai dengan jalan pikiran Jalal, dan ia tolak yang tidak paralel dengan ideologinya. Bahkan, Jalal pun mengomentari gaya masing-masing di dalam berkomunikasi. Tak jelas siapa yang telah mendaulatnya sebagai juri bagi dua nara sumber sebelumya.

Bagi pengasuh pesantren Muthahhari ini pembicara di depan menampilkan dua model yang berbeda. ”Jika yang pertama berbicara secara akademis, cool, disertai dengan data-data referensial, maka pembicara kedua hadir dengan model provokatif, agitatif dan lebih mirip sebuah kampanye daripada sebuah perbincangan akademis” paparnya. ”Nah, saya akan menempatkan diri pada posisi tengah dari dua model di atas.” ”Saya akan menunjukkan kebenaran-kebenaran Hizbut Tahrir dan kebenaran-kebenaran Abdul Moqsith Ghazali sekaligus kesalahan-kesalahannya.” ”Pertama-tama perihal bahwa apa yang dibawa oleh Rasul adalah berasal dari langit, itu benar adanya”, ucap kang Jalal mengawali presentasinya. ”Pada poin inilah, Mohammad al-Khatthath benar.” ”Sementara, bahwa khalifah dinilai berasal dari langit, itu salah.” ”Al-Qur’an tidak pernah menyebut istilah gerakan khilafah.” ”Model kepemimpinan khalifah muncul dari penafsiran kita terhadap al-Qur’an.” ”Dan kelirulah kalau memosisikan al-Qur’an sama dengan penafsiran terhadapnya”, jelasnya. ”Al-Qur’an pasti benar, tetapi tafsir terhadapnya tidak mesti benar.” ”Sebab, di sana ada pengaruh sosial, budaya, politik dan pemikiran penafsir.” ”Dalam aspek inilah, Abd. Moqsith benar”, tandas kang Jalal yang disambut tepuk tangan hadirin.

Ia mengakui adanya pemikirian Islam yang dilatari oleh Arab, tapi itu bukan satu-satunya. Menurutnya Islam mengakomodir muatan-muatan lokal di mana ia hadir dan hidup bersama umat yang memeluknya. Hal itu dibuktikan dengan adanya qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafi’i. ”Oleh karenanya adanya Islam yang bercorak ke-Indonesiaan menjadi sesuatu yang sah-sah saja”, tegasnya. ”Bahkan Alquran yang sudah pasti benarnya pun masih kita temukan distingsi antara periode Mekkah dan Madinah.” Ini artinya Allah yang mutlak benar masih memperhatikan situasi dan kondisi. ”Di sinilah, Ustadz Abd. Moqsith benar.” ”Tapi menganggap bahwa pendapat anda pasti benar, berarti anda telah mengambil posisi Tuhan.” ”Karena kebenaran manusia itu relatif.”

Seminar yang semula mengundang Ahmad Dhani, gitaris grup band Dewa, ini mengundang minat mahasiswa yang luar biasa, meski akhirnya Ahmad Dhani tak jadi bergabung. Suasana ruangan yang panas tanpa mesin pendingin, membludaknya peserta, ditambah dengan perdebatan pemikiran yang cukup sengit, membuat suasana semakin hangat. Tetapi, kehangatan itu cepat menghilang karena adzan shalat jum’at telah berkumandang. Dan acara pun segera usai.[]

~Dimuat di website JIL tgl 8 Juni 2006~

Iklan