jump to navigation

Asa Yang Tak Pernah Mati Juli 20, 2006

Posted by aniq in Renungan.
trackback

Ku tempuh hari ke hari yang tak pernah ku tahu apa di dalamnya, ku coba masuk ke permukaan namun selalu luput tuk merenungi hari-hariku yang panjang. Ku ingin larut pada kedalamanmu, bukan hanya sekedar menyebut Asma-Mu.  

Dalam kegelisahan yang menghimpit, ada sesuatu yang sulit ku palingkan. Rasanya aku sering tak sanggup diam lama berhadapan dengan-Mu. Engkau selalu trsisih dan aku memburu sesuatu yang menggoda perasaanku. Aku merengguk kehidupan tapi tak menghayati inti kehadiran langkahku adalah perjalanan kehilangan.  

Aku baru membaca permukaan, tak pernah tenggelam lebih dalam aku terpaku pada kekuatan yang nyata. Aku terus berjalan, menempuh hari-hari harapan, belum juga nampak ujung bayang-bayang. Jalan penuh liku, mendaki dan menurun di atas tebing-tebing begitu mencekam.  

Banyak yang kudapati, banyak yang kutemui, banyak yang ku pelajari, banyak yang bertanya-tanya. Kemanakah tujuan anda Kee ujung segala masih jauhkah entahlah apa bekal anda keyakinan, apa yang anda cari wujud perjalanan, apakah ituEntahlah. Akan tercapai mudah-mudahan.  

Dibawah lindung pohon aku bersandar, tercenung menghitung jejak langkah dan sisa harapan. Bumi yang luas, bumi yang hening, langit yang bening. Gejolaknya adalah untaian renungan. Bumi langit adalah hamparan kerinduan. Daun-daun kering berguguran, jatuh ke bumi.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: